Talenta 56 | Inspirasi Tanpa Batas

Tampilkan postingan dengan label Olah Raga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Olah Raga. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 Februari 2011

Tjipta Kecam Intervensi Menpora, Menpora Siap Hadapi Somasi Nurdin


Arya Perdhana - detiksport

Jakarta - Komite Banding Pemilihan Exco, Wakil Ketua dan Ketua Umum PSSI 2011-2015 mengaku banyak mendapat tekanan. Salah satunya, dari Menpora Andi Mallarangeng.

Hal tersebut diungkapkan oleh Ketua Komite Banding, Tjipta Lesmana, dalam konferensi pers di Hotel Santika, Petamburan, Jakarta Pusat, Jumat (25/2/2011) sore WIB.

Tjipta mengaku bahwa pihaknya menerima banyak sekali tekanan, ancaman dan intimidasi dari pihak luar. Yang disebut sebagai salah satu pihak yang memberi tekanan adalah Menpora.

"Kami memperhatikan campur tangan Pemerintah melalui Menpora Andi Mallarangeng. Kami menilai itu campur tangan," kata Tjipta di hadapan wartawan.

Menanggapi proses pemilihan Ketua Umum PSSI, Menpora memang beberapa kali mengeluarkan pernyataan yang cukup keras. Menpora mendesak PSSI menerima koreksi yang diajukan Pemerintah dan mengancam apabila tidak dilaksanakan, akan ada sanksi yang dijatuhkan.

"Pada 21 Februari, Pemerintah dan KON/KOI mendesak Komite Banding mengoreksi keputusan. Kami sayangkan pernyataan ini, itu fait accompli," cetus Tjipta yang juga seorang Guru Besar di Universitas Indonesia itu.

"(Pernyataan) Harus mengoreksi ini, seolah-olah tidak percaya pada integritas (anggota) Komite Banding. Itu intervensi yang blak-blakan," tandas Tjipta. ( arp / arp )



Menpora Siap Hadapi Somasi Nurdin 

Gede Suardana - detiksport

Nusa Dua - Ancaman Nurdin Halid untuk melakukan somasi ditanggapi serius oleh Menpora Andi Mallarangeng. Ia pun siap menghadapi somasi dari Nurdin tersebut.

"Kalau ada somasi dari pihak lain yang keberatan dengan kebijakan pemerintah yang silahkan saja. Itu hak mereka," kata Andi di sela-sela acara Council Executive Committee Meeting di Hotel Nusa Dua Beach, Nusa Dua, Jumat (25/2/2011).

Andi mengatakan pemerintah memiliki kewenangan mengatur PSSI jika tidak sejalan lagi. Pemerintah memiliki kewajiban untuk membina dan mengawasi PSSI.

"Pemerintah mempunyai kewenangan terhadap PSSI. Karena PSSI milik Indonesia maka harus untuk dengan peraturan Indonesia," katanya.

Terkait tanggapan atas somasi yang akan dilayangkan Nurdin kepada dirinya, Andi mengatakan belum memberita tanggapan.

"Pemerintah lagi menunggu jawaban atas peringatan yang diberikan kepada PSSI," ujarnya.( gds / rin )

sumber: http://www.detiksport.com

Miing: Dipenuhi Orang Parpol, PSSI Tidak Beres

Adi Nugroho - detiksport

Jakarta - Dalam tubuh PSSI terdapat banyak tokoh partai politik. Faktor tersebut dinilai telah menyebabkan jalannya organisasi sepakbola tertinggi di Indonesia itu tidak beres.

"Apabila organisasi olahraga, jangankan oleh orang partai, oleh suasana politik, udah enggak bakal beres, sebab ada kepentingan di situ. Apalagi ada orang partai yang numpuk di sana," ujar Anggota Komisi X DPR, Dedi Gumelar, dalam diskusi bertajuk 'Beranikah FIFA Menghukum Indonesia?' di Resto Sindang Jl Wijaya, Jakarta Selatan, Jumat (25/02/11).

Menurut pria yang akrab disapa Miing ini, terlalu banyaknya politisi di organisasi olahraga seperti PSSI akan memperburuk suasana. Jika mereka tengah bertengkar, bukan kepentingan bangsa dan negara yang dibela, tetapi kepentingan kelompok.

"Kalau mereka yang bertengkar, itu tidak lagi bicara tentang merah putih tapi kepentingan politik dan bisnis pundi-pundi itu," imbuhnya.

Dan tak jarang, jika tengah berprestasi, maka para politisi akan saling klaim. "Bahkan Nurdin pernah mengatakan di luar negeri bahwa kemenangan timnas adalah hasil kader Golkar. Ini apa maksudnya?," tanya Miing heran.

Namun, ketika ditanya apakah demonstrasi menentang Nurdin Halid akhir-akhir ini akan merusak citra Partai Golkar tempat Nurdin bernaung, Miing menjawab hal tersebut tidak berkorelasi.

"Enggak, saya kira itu tidak berhubungan dengan kepartaiannya," jawab kader PDIP ini.

Miing pun berharap agar masyarakat tidak hanya menyalahkan Nurdin atas buruknya prestasi sepakola Indonesia. Ia juga menuntut pertanggungjawaban pengurus provinsi (Pengprov) PSSI yang turut mendukung Nurdin.

"Yang juga mesti diminta pertanggungjawabannya adalah Pengprov. Mereka yang menentukan duduk berdirinya Nurdin. Selama ini mereka hanya memegang suara saja tetapi tidak pernah melakukan pembinaan sepakbola di daerahnya," ujar Miing.
( adi / a2s )

sumber: http://www.detiksport.com/

Putusan Komding Tampar PSSI


Putusan Itu Sama Halnya Menilai Proses Pemilihan Yang Ada Saat Ini Salah.

Laporan Fahri Rayyana dari Surabaya

Keputusan Komisi Banding (Komding) Pemilihan Ketua Umum PSSI dinilai kubu Arifin Panigoro (AP) dan George Toisutta (GT) menampar muka PSSI.

Menurut Saleh Ismail Mukadar, secara tak langsung putusan tersebut menegaskan semua proses pemilihan yang dilakukan PSSI saat ini salah karena tak mengikuti rule yang ada. Baik FIFA maupun aturan main yang berlaku di Republik ini.

"Putusan itu sama halnya tak mengakui segala proses pemilihan saat ini. Semua kembali ke titik nol," terangnya.

Saleh kemudian merujuk pada putusan Komding yang menganulir hasil putusan komisi pemilihan. "Proses pembentukannya (KP) saja sudah salahi aturan, bagaimana mau hasilkan putusan yang benar," tukasnya.

Penganulir tersebut, lanjut Saleh, membuat pihaknya tak terlalu mempersoalkan penolakan komding atas banding yang diajukan AP dan GT.

"Kalau diterima malah salah. Putusan KP saja tidak diakui," ujarnya.

Yang jelas, tambah Saleh, putusan Komding ini harus dikawal bersama sama. Artinya, semua proses diulang dari awal. KP sesuai FIFA Electoral Code dibentuk minimal enam bulan sebelum Kongres. Anggota yang dipilih pun harus benar benar independen. 

"Nggak kayak sekarang, bau Nurdin semua," sindirnya.

Bagaimana bila PSSI mengabaikan putusan tersebut dengan langsung memasuki tahap kongres? "Kita akan lawan lebih keras dari sekarang. Sepakbola negeri ini harus dihindarkan dari godaan para penjahat sepakbola yang terkutuk," tegasnya.

Komding memang merilis tiga putusan. Pertama, menolak banding kubu AP dan GT. Kedua, menganulir semua keputusan Komisi Pemilihan. Ketiga, mengembalikan semua pada PSSI. (gk-31) 

http://www.goal.com/

Jelang Kongres PSSI 2011 Pemerintah Didesak Bekukan PSSI


 MATARAM--MICOM: Pengurus Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia Nusa Tenggara Barat mendukung langkah pemerintah yang akanmembekukan kepengurusan di tingkat pusat, jika Nurdin Halid tetap keras kepala tidak mau mengundurkan diri.
"Kami dukung pusat untuk mengintervensi penyelesaian polemik PSSI, kami juga dukung jika PSSI pusat dibekukan," kata Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) Nusa Tenggara Barat (NTB) H. Muhammad Lutfi, kepada wartawan di Mataram, Jumat (25/2) petang.
Lutfi mengatakan, PSSI NTB berharap pemerintah yakni Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga terus terlibat aktif dalam penyelesaian polemik di tubuh PSSI yang akan menggelar Kongres di Bali, Maret mendatang. Karena itu, PSSI NTB mendukung langkah Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Andi Malarangeng untuk bertindak tegas, karena Ketua Umum PSSI Nurdin Halid, mengabaikan koreksi pemerintah.
Salah satu koreksi yang menjadi perhatian yakni proses verifikasi Komite Pemilihan PSSI yang tidak meloloskan George Toisutta dan Arifin Panigoro sebagai bakal calon Ketua Umum PSSI periode 2011-2015. Namun, Komite Pemilihan PSSI tetap pada pendiriannya yakni hanya mengakomodasi dua nama yakni Nurdin Halid dan Nirwan Bakrie, sebagai kandidat  Ketua Umum PSSI periode empat tahun mendatang.
Pengurus PSSI NTB juga menyarankan Menegpora dan rakyat Indonesia tidak perlu takut sanksi dari FIFA jika proses seleksi Ketua Umum PSSI relatif menyalahi aturan. "Tidak usah takut sanksi FIFA, kami yakin FIFA akan kembali mendukung pemerintah dan rakyat Indonesia yang menghendaki kemajuan sepak bola di Tanah Air. Ada banyak contoh dimasa lalu, negara-negara yang sempat diberi sanksi oleh FIFA seperti Australia, Nigeria, dan Malaysia, yang akhirnya maju sepak bola di negara itu," ujar Lutfi.
Wakil Bupati Lombok Timur itu akan menyurati Menegpora guna memberi tahu sikap PSSI NTB yang mendukung penyelesaian polemik PSSI itu. Pengurus PSSI NTB juga sempat menyurati PSSI pusat agar mengakomodasi dua nama yang dijagal Komite Pemilihan PSSI yakni George Toisutta dan Arifin Panigoro.  "Bahkan, kami mengutus orang untuk menyampaikan secara langsung kepada pengurus PSSI pusat," ujarnya.
Lutfi dan pengurus PSSI NTB lainnya menghendaki Nurdin Halid legowo untuk meninggalkan kursi Ketua Umum PSSI karena selain terlalu lama memimpin, juga tidak lagi dikehendaki masyarakat pencinta bola di Tanah Air.
"PSSI butuh darah segar dalam kepengurusan di tingkat pusat, jangan biarkan organisasi PSSI terus carur-marut karena sangat berdampak pada perkembangan sepak bola di Tanah Air," ujarnya. (Ant/OL-2)
 SUMBER: http://www.mediaindonesia.com/

Keputusan Komite Banding Dipengaruhi Ancaman, Pengamat Sayangkan Keputusan Komite Banding PSSI


JAKARTA, KOMPAS.com - Keputusan Komite Banding ternyata tidak terlepas dari intimidasi dari pihak-pihak luar selama memeriksa berkas-berkas banding atas keputusan Komite Pemilihan Eksekutif PSSI periode 2011-2015.

Sebagaimana diberitakan, Komite Banding tidak meloloskan banding dua bakal calon Ketua Umum dan Wakil Ketua Umum Arifin Panigoro dan George Toisutta. Mereka pun menolak banding dua bakal calon anggota Komite Eksekutif yakni Sihar Sitorus dan Tuti Dau. Selain itu, Komite Banding beranggotakan Ketua Tjipta Lesmana, Wakil Gayus Lumbuun serta anggota Alfred Simanjuntak dan anggota pengganti Max Boboy serta Triandi Mulkan memutuskan menolak hasil verifikasi Komite Pemilihan dan menyerahkannya kepada PSSI.

Tjipta Lesmana mengatakan, selama bekerja mengaku mendapat cukup banyak tekanan. Salah satu tekanan yang dimaksud Tjipta adalah tekanan dari pemerintah yang meminta Komite Banding mengoreksi keputusan Komite Pemilihan.

"Andaikata kami diberikan kebebasan suasana kondusif, kami bisa memutuskan. Keras sekali ancaman-ancaman dari berbagai pihak tetapi tidak kami layani. Kami tidak mau didikte. Jadi, inilah yang keputusan yang diambil," kata Tjipta dalam jumpa pers di Hotel Santika, Jumat (25/2/11). "Kami juga mengetahui campur tangan pemerintah pada 21 Februari. Pemerintah meminta Komite Pemilihan segera memeriksa keputusannya. Tadi pagi juga mengancam PSSI agar mengabulkan banding agar kongres PSSI lancar. Ini adalah tekanan," tegasnya.
Dikatakan Tjipta, keputusan Komite Banding bukanlah keputusan politis. "Keputusannya seperti ini karena banyak tekanan dan intimidasi dari berbagai pihak. Kami mengambil keputusan ini karena melihat suasana tidak lagi kondusif. Kami juga harus melihat lingkungan. Tetapi ini bukan berarti keputusannya bersifat politis," tegas Tjipta.

###

Pengamat Sayangkan Keputusan Komite Banding PSSI

Penulis : Asni Harismi
JAKARTA--MICOM: Pengamat olahraga Fritz E Simandjuntak menilai Komite Banding justru tidak melakukan kerja apa-apa dengan menyerahkan kembali kepada PSSI.

''Konsiderans dari keputusan tersebut apa sebenarnya? Lha kok dikaitkan dengan tekanan, intimidasi, sampai campur tangan pemerintah. Kalau memang tidak tunduk pada tekanan, buat dong keputusan. Tolak atau terima pencalonan George (Toisutta),'' ujar Fritz.

Yang harus dilakukan sekarang, menurut Fritz, adalah menekan pada share holder (pemilik suara) yang akan berkongres nanti. Sebab ini mirip Mei 1998 ketika rakyat meminta kepemimpinan nasional turun, tapi Ketua MPR Harmoko masih berkeras meminta hal itu berlanjut.

''Para share holder harus peka terhadap suara masyarakat sepak bola nasional. Mereka tidak lagi menghendaki Nurdin, ya harus didengar,'' tegas Fritz. (OL-12)


Kamis, 16 Desember 2010

Indonesia Sementara Unggul 1-0 Lawan Filipina

Jakarta (ANTARA News) - Timnas Indonesia sementara unggul 1-0 melawan Filipina di babak pertama semifinal leg 1 AFF Suzuki Cup 2010 di Stadion Utama Gelora Bung Karno Jakarta, Kamis.
Gol tunggal ini dicetak oleh striker Christian Gonzales di menit 32.
Indonesia yang ditangani pelatih Alfred Riedl tetap mengunakan formasi utamanya dengan menempatkan duet Christian Gonzales dan Irfan Bachdim di lini depan.
Sementara Filipina yang main partai kandangnya menggunakan stadion GBK ini menempatkan duet James dan Philip bersaudara di barisan depan.
Indonesia dengan komando kapten Firman Utina memulai serangan melalui sayap kiri dengan dimotori Oktovianus Maniani. Beberapa kali Okto mencoba menembus pertahanan Filipina.
Satu peluang Indonesia lewat tendangan Chirstian Gonzales masih terlalu lemah dan dapat diamankan kiper Filipina Neil di menit 10.
Sedangkan Filipina mncoba serangan mereka dari kaki Philip yang setidaknya dua kali mengancam gawang Markus. Termasuk tendangan jarak jauhnya di menit 13.
Permainan cukup ketat dan saling menekan. Indonesia sedikit mengubah serangan dengan melambungkan umpan dari M Nasuha dan tepat ke arah Gonzales. Dengan sedikit mengecoh kiper Niel, Gonzales mencetak gol pertama untuk Indonesia di menit 32.
Susunan pemain:
Filipina: Neil Leonard Dula (kiper), Robert Gier, Anton Edward, Roel Jimena Gener, James Josep P, Philip James Placer, Alexander Charles Luis (kapten), Jason Nicolas Dantes, Christopher Robert, Ian B Araneta, Ray Anthony Pepito.
Pelatih: Simon Alexander McMenemy

Indonesia: Markus Harison Rihihina (kiper), Mohamad Nasuha, Zulkifli Syukur, Maman Abdurachman, Christian Gerard Alfaro Gonzalez, Oktavanius Maniani, Firman Utina (kapten), Irfan Haarys Bachdim, Ahmad Bustomi, Muhammad Ridwan, Hamka Hamzah
Pelatih: Alfred Riedl

Wasit: Moradi Masoud Hasanalo (Iran).(*)

(ANT/R009 - http://www.antaranews.com)

Irfan Bachdim, striker muda berbakat Indonesia yang kerap diisukan sebagai pemain naturalisasi. namun tahukan agan fakta sebenarnya ???
sebelumnya ane mohon maaf kalo gan...

Tapi niat baik ane cuma pengen ngelurusin berita tentang status striker muda kebanggaan kita saat ini " si Irfan Bachdim"... 
rfan Bachdim (lahir di Amsterdam, 11 Agustus 1988; umur 22 tahun) merupakan pemain sepak bola Indonesia keturunan Belanda[1], ia adalah pemain hasil naturalisasi yang dilakukan oleh PSSI bersama dengan Christian Gonzalez agar dapat memperkuat timnas Indonesia. Saat ini ia memperkuat Persema Malang di Liga Super Indonesia. Ia direkrut Pelatih Persema Timo Scheunemann bersama Kim Jefri Kurniawan. Pelatih Persema Malang itu tertarik ketika Irfan dan pemain muda berbakat Indonesia lainnya bermain di laga amal untuk tokoh sepakbola Lucky Acub Zaenal di Stadion Gajayana, Malang. Irfan sempat hampir membela tim sepak bola U-23 Indonesia di Asian Games 2006 - Qatar. Sayang, dia harus absen dari turnamen tersebut karena menderita cedera. Pada Bulan Juli 2009 dia ditransfer tanpa biaya ke klub HFC Haarlem.

Dalam bermain ia bisa menempati berbagai posisi, ia dapat menempati posisi striker, gelandang maupun sayap. Irfan mengikuti jejak ayahnya, Noval Bachdim yang sebagai pemain Persema Malang di era 80-an. Keluarga besar dari ayahnya kini masih tinggal di Lawang, Kabupaten Malang. Irfan saat ini tergabung dalam timnas Indonesia asuhan Alfred Riedl untuk Piala AFF 2010. Debut pertama bersama timnas Indonesia ia awali ketika timnas menang 6-0 di laga persahabatan melawan Timor Leste, di Palembang pada 21 November 2010.


Penampilan pertamanya bersama Timnas dalam turnamen resmi terjadi pada 1 Desember 2010, saat Indonesia mengalahkan Malaysia 5-1 di Gelora Bung Karno pada ajang AFF 2010. Irfan sendiri mencetak 1 gol dalam pertandingan tersebut.[2]
sumber 

Si Irfan bukan pemain naturalisasi seperti yang sering diberitakan gan...dia bener2 orang Indonesia yang tinggal dan besar disono... 

Cemerlangnya penampilan Christian Gonzales dan Irfan Bachdim menyiratkan dampak positif bagi kebijakan naturalisasi PSSI yang dulu ditentang banyak pihak. Benarkah demikian?

Mereka yang menyaksikan pertandingan Indonesia melawan Malaysia hari Rabu (1/12) pasti setuju bagaimana digdayanya Christian "El Loco" Gonzales di lini depan. Ia begitu tangguh di udara dan perannya sebagai post-player yang berfungsi sebagai tembok pemantul dan memegang bola di wilayah permainan lawan membuat dirinya sangat vital dalam pembangunan serangan Indonesia. Begitu pula dengan partnernya di lini depan, Irfan Bachdim yang memiliki teknik ciamik dan akselerasi eksplosif yang memorak-morandakan pertahanan lawan.

Patut diingat bahwa Irfan Bachdim bukanlah pemain naturalisasi dalam artian ia berpindah kewarganegaraan karena ia adalah warga negara Indonesia dan memegang paspor Indonesia pula. Hanya kebetulan saja ia lama bermukim di Belanda sebelum dipanggil pulang untuk membela panji Merah Putih. Sementara Gonzales telah bertahun-tahun tinggal di Indonesia untuk bermain bagi Persik Kediri dan Persib Bandung. Sudah dari 5 tahun lalu Gonzales dan istrinya memohon perpindahan kewarganegaraan tapi baru dikabulkan sekarang.

Jika anda bertanya apakah naturalisasi pemain seperti yang dilakukan Gonzales berdampak besar bagi timnas kita, saya dengan tegas mengatakan ya! Kapan terakhir kali anda melihat striker tim nasional memiliki kemampuan menahan bola lama-lama di jantung permainan lawan dengan kekuatan tubuh bagian atas yang hebat? Peran yang sebelumnya diemban oleh Bambang Pamungkas tersebut sekarang dijabat oleh Gonzales yang begitu dominan. Gonzales dengan efektif juga rajin membuka ruang dengan turun ke belakang. Tidak hanya itu, insting membunuh pemain kelahiran Uruguay yang membuatnya beberapa kali menjadi topskor Liga Indonesia juga berperan besar. Gol kedua Indonesia yang dicetaknya dengan jelas menggambarkan hal itu. Lihatlah bagaimana dengan tenang ia mengarahkan bola pelan ke pojok gawang Malaysia.


Pertanyaannya, apakah talenta pemain Indonesia sebegitu minimnya sehingga kita harus menaturalisasi pemain asing? Untuk kasus Gonzales bisa dibilang begitu karena relatif kita tidak memiliki stok pemain matang dengan tipe permainan demikian. Selama ini kita selalu dijejali dengan berbagai penyerang yang memiliki kecepatan dan akselerasi, tapi tiada yang memiliki ketenangan dan visi, kecuali Bambang Pamungkas. Yang bisa menjadi bahan pembelajaran adalah bagaimana striker-striker muda kita belajar dari Gonzales. Menilik bahwa kita membutuhkan striker seperti Gonzales, bukankah bijak bila klub dan tim nasional mendidik para pemain mudanya untuk mengakomodasi kebutuhan kita akan pemain bertipe demikian? Striker muda Arema, Yongki Ariwibowo memiliki teknik dan skill yang impresif yang dirasa memiliki potensi untuk berkembang ke arah sana.


Sementara kesuksesan Irfan Bachdim yang dengan seketika menjadi idola para wanita karena wajah tampannya mengapungkan isu naturalisasi terhadap pemain-pemain Indonesia kelahiran Belanda lainnya. Oke, Irfan memang impresif, tapi hal penting yang harus diingat sudah kita bahas di depan tadi bahwa Irfan bukan pemain naturalisasi. Konyol bila kita berkaca pada kesuksesan Irfan dan memutuskan mengindonesiakan beberapa Londo Belanda yang bahkan tidak pernah mendengar Indonesia Raya. Lagi-lagi yang harus dipikirkan PSSI dan Badan Tim Nasional adalah menularkan skill yang dimiliki Irfan kepada pemain lainnya. Proses tersebut akan sulit karena fondasi dan pendidikan sepakbola usia dini antar pemain berbeda, tapi setidaknya Irfan bisa menjadi benchmark.


Sesungguhnya naturalisasi tidak bagus bagi pengembangan sepakbola nasional dalam jangka panjang. Tidak lucu jika tim nasional kita dijejali para pemain berdarah asing seperti yang terlihat pada timnas Singapura. Jika memang harus melakukan naturalisasi, biarlah dilakukan terhadap pemain yang akan mendongkrak performa tim dengan dasar yang jelas pula, seperti Gonzales yang lebih dari 5 tahun tinggal di Indonesia. Pemain naturalisasi haruslah menjadi katalis dan patokan bagi pengembangan pemain muda kita, bukannya menjadi tumpuan harapan di masa depan.
  

"Meskipun pemain keturunan, aku bukan pemain naturalisasi, saya asli Indonesia,"ujar Irfan yang mencoba meluruskan pemberitaan yang sudah telanjur memberitakan jika Irfan bersama Cristian Gonzales merupakan produk naturalisasi. 
Doa dulu ah...sapa tau ada yang kasih yang ijo2....dirate juga boleh gan...
maaf gan masih berantakan....nubi sih..

Sumber : http://hotkaskus.blogspot.com

Profil Cristian Gonzalez (El Locco) dan Perjalanannya Menjadi Stiker Tersubur di Indonesia dan Kini Masuk Timnas Indonesia

Christian Gérard Alvaro González atau yang lebih dikenal dengan nama Christian Gonzalez, adalah seorang pesepakbola asal Montevideo, Uruguay, yang dapat berposisi sebagai Penyerang Tunggal dan Penyerang Tengah. Sekarang ia memperkuat tim Indonesia Super League, Persib Bandung. Pada tanggal 3 November 2010 Christian Gonzales resmi menjadi Warga Negara Indonesia dan dapat membela Tim Nasional Sepakbola Indonesia.
 
Ia adalah salah satu Penyerang yang paling mematikan sepanjang sejarah kompetisi sepakbola Indonesia. Kemampuannya dalam menendang, mencetak gol, penempatan posisi, visi permainan, dan sundulan adalah andalannya. Disamping kemampuannya, ia juga terkenal memiliki fisik yang prima.

Pada saat bermain di Uruguay, pemain kelahiran  30 Agustus 1976 ini ditugaskan sebagai Gelandang Serang. Produktivitasnya kurang baik sampai akhirnya ia hijrah ke Indonesia untuk bergabung dengan PSM Makassar dengan status Free Transfer, dan di plot sebagai Penyerang. Dari sinilah ia membuktikan kualitasnya sebagai seorang penyerang handal.


Pada musim 2006, ia adalah pemain termahal di Liga Indonesia menurut data Badan Liga Indonesia dengan bayaran Rp 1,2 milyar
Setelah menikah, Cristian Gonzalez memiliki paspor Indonesia, istrinya adalah wanita Indonesia bernama Eva Nurida Siregar. Dari pernikahannya, ia memperoleh dua orang anak (Fernando dan Florencia). Ia juga telah mempunyai dua anak hasil pernikahan sebelumnya (Amanda dan Michael).
Kontrovesi
Christian Gonzalez dikenal dengan sikapnya yang temparamental. Sejak pertama kali merumput di Indonesia tahun 2003, dia sudah mendapat hukuman dari Komisi Disiplin PSSI sebanyak lima kali karena perilaku kekerasan terhadap lawan dan pelecehan terhadap wasit, akan tetapi hukumannya hampir tidak pernah dilaksanakan secara efektif karena ketua umum PSSI, Nurdin Halid, yang terkesan melindunginya. Bahkan untuk kasusnya yang ke-5, Badan Liga Indonesia mengaku tidak bisa berbuat apa-apa ketika hukuman larangan bermain yang seharusnya 12 bulan dibatalkan oleh Nurdin Halid ketika hukuman baru berjalan 3 bulan.  

Hal ini dipertanyakan beberapa pihak, termasuk PSMS Medan yang menyatakan bahwa PSSI telah menghilangkan unsur pembelajaran dan Nurdin Halid sangat pilih kasih dalam memberi ampunan.

Berikut daftar kasus Christian Gonzalez :
  • Terlibat perkelahian dengan sesama rekan timnya di Sud America, pada tahun 2000. Ia kemudian dikeluarkan manajemen klubnya dengan status Free Transfer.
  • Terlibat perkelahian dengan sesama rekan timnya di Deportivo Maldonado, pada tahun 2002. Ia kemudian dikeluarkan manajemen klubnya dengan status Free Transfer.
  • Pada putaran kedua Liga Indonesia 2004, Christian Gonzalez memukul pengurus Persita Tangerang di Stadion Benteng. Dia dihukum setahun oleh Komisi Disiplin PSSI, namun bisa merumput kembali ketika hukuman baru berjalan 6 bulan.
  • Pada putaran final Liga Indonesia 2006, Christian Gonzalez menanduk penyerang PSIS Semarang, Emanuel de Porras. Dia dihukum sebanyak tiga pertandingan untuk itu, namun tidak pernah dijalankannya.
  • Pada tahun 2007, dia meludahi wasit Hidayat ketika Persik Kediri dijamu Pelita Jaya. Dia dihukum sebanyak tiga pertandingan untuk itu, namun tidak pernah dijalankannya.
  • Di babak delapan besar Liga Indonesia 2007, dia berkelahi dengan bekPersija Jakarta, Herman Abanda. Namun lagi-lagi hukuman tiga pertandingan yang didapatkannya tidak pernah dilaksanakan.
  • Pada bulan November 2008, Komisi Disiplin PSSI menjatuhkan hukuman larangan bermain 1 tahun kepadanya karena memukul bek PSMS Medan, Erwinsyah Hasibuan. Dia mengajukkan banding ke Komisi Banding PSSI, namun bandingnya ditolak, dan Komisi Banding ikut menguatkan sanksi yang diberikan oleh Komisi Disiplin. Akan tetapi pada Februari 2009 dia dinyatakan boleh bermain untuk Persib Bandung setelah Ketua Umum PSSI Nurdin Halid memberikannya pengampunan.
Karier Klub
Sud America
Bergabung dengan Sud America, sebuah klub di Uruguay, Montevidio, pada tahun 1995. Dalam periode 28 bulan, ia hanya tampil sekali dan tidak mencetak gol.
Huracan Ctes
Sud America meminjamkannya ke Huracan Ctes dengan status pinjaman. Ia tampil sebanyak 3 kali dan tidak mencetak gol.
Sud America
Kembali kepada Sud America setelah masa pinjaman yang cukup lama, ia akhirnya beberapa kali dipercaya sebagai starter. Ia tampil sebanyak 12 kali dan mencetak 1 gol.
Deportivo Maldonado
Pada tahun 2000, dengan status Free Transfer, ia berlabuh ke klub barunya, Deportivo Maldonado. Disini ia tampil sebanyak 22 kali dan mencetak 1 gol.
PSM Makassar
Pada tahun 2003, ia bergabung dengan PSM Makassar dengan status Free Transfer. Pada musim tersebut ia mencetak 27 gol dan PSM Makassar menjadi juara kedua Liga Indonesia. Tahun berikutnya ia dikenai skorsing oleh PSSI selama semusim dan didenda Rp 20 juta karena memukul salah seorang petugas Persita Tangerang saat bertanding.
Persik Kediri
Bebas dari skorsing, ia bergabung dengan Persik Kediri dan menjadi juara Liga Indonesia pada tahun 2006. Pada tahun 2008 ia dijatuhi skorsing dari Komdis setelah melakukan tindakan yang tidak sportif. Krisis finansial yang dialami Persik Kediri membuat manajemen Persik harus melakukan rasionalisasi gaji. Gonzalez merupakan salah satu dari beberapa pemain Persik yang tidak setuju atas keputusan tersebut.

Persib Bandung (pinjaman)
Pada 30 Januari 2009, manajemen Persib Bandung mengumumkan bahwa mereka telah merekrut Christian yang mendapat remisi dari Ketua Umum PSSI, Nurdin Halid. Christian dikontrak dalam status sebagai pemain pinjaman dari Persik Kediri dan akan digaji 60 juta rupiah per bulan oleh Persib Bandung.
Ia memulai debut sebagai starter di Liga Super Indonesia ketika Persib menjamu Persipura di pertandingan yang berakhir 1-1 berkat gol yang juga dicetak olehnya. Ia bermain sebanyak 16 kali di Liga dan mencetak 14 gol, menjadikan Gonzalez sebagai pencetak gol terbanyak di Liga Super bersama Boaz Solossa dengan 28 gol.

Persib Bandung
Setelah masa pinjamannya di Persib Bandung dan kontraknya di Persik Kediri habis, Ia langsung dikontrak oleh Persib Bandung sebagai pemain tetap. Di pra musim 2009-10, Ia mencetak gol untuk Persib di Piala Gubernur Jatim.

Statistik Karier Profesional
Negara
Klub
Musim
Liga
Piala
Keseluruhan
Tampil
Gol
Tampil
Gol
Tampil
Gol
Uruguay








Sud America
1995–1996
0
0
0
0
0
0
1996-1997
0
0
0
0
0
0
1997-1998
1
0
0
0
1
0
Huracan Ctes
1997-1998
1
0
0
0
1
0
1998-1999
2
0
0
0
2
0
Sud America
1999-2000
12
1
0
0
12
1
Deportivo Maldonado
2000-2001
0
0
0
0
0
0
2001-2002
12
0
0
0
12
0
2002-2003
10
1
0
0
10
1
Jumlah Keseluruhan
38
2
0
0
38
2

Negara
Klub
Musim
Liga
Piala Indonesia
Inter Island Cup
Lainnya
Keseluruhan
Tampil
Gol
Tampil
Gol
Tampil
Gol
Tampil
Gol
Tampil
Gol
Indonesia












PSM Makassar
2003-2004
26
27
0
0
0
0
0
0
26
27
2004-2005
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
Persik Kediri
2005-2006
28
30
8
10
0
0
0
0
36
40
2006-2007
25
32
8
8
0
0
0
0
33
40
2007-2008
30
26
4
5
0
0
0
0
34
31
2008-2009
12
14
0
0
0
0
0
0
12
14
Persib Bandung
2008-2009
16
14
5
7
0
0
0
0
21
21
2009-2010
22
18
8
10
0
0
1
1
31
29
2010-2011
0
0
0
0
2
2
0
0
2
2
Jumlah Keseluruhan
159
161
33
40
2
2
1
1
195
204
















Negara


Uruguay
38
2
Indonesia
195
204
Jumlah Keseluruhan
233
206

Prestasi Cristian Gonzalez
Klub
Individu
  • Pencetak Gol Terbanyak Liga Indonesia 2003-2004 dengan 27 gol
  • Pencetak Gol Terbanyak Liga Indonesia 2005-2006 dengan 30 gol
  • Pencetak Gol Terbanyak Liga Indonesia 2006-2007 dengan 32 gol
  • Pencetak Gol Terbanyak Liga Indonesia 2007-2008 dengan 26 gol
  • Pencetak Gol Terbanyak Indonesia Super League 2008-2009 dengan 28 gol
  • Pencetak Gol Terbanyak Kedua Indonesia Super League 2009-2010 dengan 18 gol
  • Pencetak Gol Terbanyak Kedua Piala Indonesia 2005-2006 dengan 10 gol
  • Pencetak Gol Terbanyak Kedua Piala Indonesia 2006-2007 dengan 8 gol
  • Pencetak Gol Terbanyak Kedua Piala Indonesia 2007-2008 dengan 5 gol
  • Pencetak Gol Terbanyak Kedua Piala Indonesia 2008-2009 dengan 7 gol
  • Pencetak Gol Terbanyak Piala Indonesia 2009-2010 dengan 10 gol
Sumber : Wikipedia
Akses : http://sepakbola.showbiznotes.net/